Bentuk Lahan Marine
3 minute read
Image by: Enenkq |
Daftar Isi
1. Pengertian Bentuk Lahan Asal Marine.
2. Proses Erosi Marine
3. Pengangkutan Hanyutan (Litoral)
4. Bentuk-Bentuk Lahan Hasil Pengendapan Marine
PENGERTIAN
Bentuk lahan asal marine adalah suatu bentuk lahan yang terjadi
akibat pengerjaan gelombang dan arus laut, baik yang bersifat konstruksif
(pengendapan) maupun yang bersifat destruktif (abrasi) dan terdapat pada
wilayah pesisir.
Gelombang dan arus laut tidak pernah berhenti membentuk dan merubah pantai.
Gerakan gelombang di laut makin dekat dengan pantai sebenarnya kekuatannya semakin berkurang, namun apabila sampai pada dasar pantai yang dangkal, maka bentuk dan gerakan gelombang tersebut berubah menjadi gerakan ke arah depan yang kuat (arus yang kuat), kemudian mengikis pantai dan mengangkut bahan-bahan hancuran untuk selanjutnya diendapkan pada suatu tempat tertentu.
Gelombang dan arus laut tidak pernah berhenti membentuk dan merubah pantai.
Gerakan gelombang di laut makin dekat dengan pantai sebenarnya kekuatannya semakin berkurang, namun apabila sampai pada dasar pantai yang dangkal, maka bentuk dan gerakan gelombang tersebut berubah menjadi gerakan ke arah depan yang kuat (arus yang kuat), kemudian mengikis pantai dan mengangkut bahan-bahan hancuran untuk selanjutnya diendapkan pada suatu tempat tertentu.
Pada umumnya, dasar laut pada pinggir pantai lebih halus (licin)
dan melandai ke arah laut. Ombak yang bergerak ke arah pantai, gerakannya menjadi
lambat (berkurang) sehingga menyebabkan kedudukan puncak-puncak gelombang semakin rapat.
Hal ini juga menyebabkan tinggi dan sudut lereng ombak bertambah
yang selanjutnya gelombang tersebut condong ke depan, mejadi pecah dan berbuih
menghantam pantai.
Hantaman ombak ke pantai menyebabkan terjadinya proses abrasi
dan pantai akan terkikis sedikit demi sedikit. Hasil kikisan kemudian
dihanyutkan secara selektif.
Hancuran yang halus terbawa arus ke tengah laut dan diendapkan
sebagai lumpur atau liat, sedangkan pasir dan kerikil tertinggal didekat tebing
membentuk pantai pesisir serta gosong-gosong pantai.
Pesisir (shore) adalah zone atau sejalur daerah tempat pertemuan
daratan dengan laut, mulai dari batas muka air pada waktu pasang-surut terendah
menuju arah darat sampai batas tertinggi yang mendapat pengaruh gelombang pada
waktu badai.
Garis pesisir (shore line) adalah tempat letak muka air pada
pesisir pada suatu saat. Dengan demikian garis pesisir berubah-ubah letaknya
tergantung dari perubahan muka laut. Tempat kedudukan garis pesisir itu
adalah daerah pesisir.
Pantai (coast) adalah suatu daerah mulai dari pesisir, ke arah
daratan sampai batas yang kurang jelas, atau sampai pengaruh kemaritiman
tercapai ke arah daratan.
Garis pantai (coast line) yaitu batas antara pantai dan
pesisir. Daerah pertemuan antara daratan dan lautan dapat dibagi dalam
beberapa zone. Perkembangan tebing di suatu pantai dapat terjadi oleh dua
faktor penentu yaitu peninggian daratan atau permukaan laut yang naik.
Kemudian melalui erosi marine keadaan pantai itu, mengalami
suatu perkembangan pantai meninggalkan bentukan-bentukan khusus seperti (1)
pantai cliff, (2) gerbang laut (arch), (3) tiang-tiang laut (stock), (4) pantai
takikan (notch), (5) gua pantai (cave), (6) pantai rataan abrasi (abrasion
platform.
PROSES EROSI MARINE
Erosi marine dengan gaya dan proses gelombang serta arus
memegang peranan penting, masih dipengaruhi oleh beberapa faktor lain seperti:
(1) Jenis batuan,
(2) struktur batuan,
(3) stabilitas pantai,
(4) terbuka tidaknya pantai terhadap gelomabng,
(5) kedalaman laut dimuka pantai,
(6) bahan hancuran yang terdapat dalam gelombang tersebut.
Gejala perubahan arah atau kelokan ombak pada waktu sampai ke
tempat pantai disebut sebagai biasan ombak (wave refraction). Bila ombak menghampiri pantai maka kedangkalan akan menjadi
faktor tahanan bagi lajunya ombak.
Oleh karena itu pada tanjung gerakan ombak akan berubah
menyesuaikan diri dengan bentuk tanjung. Di depan tanjung ombak akan terbias atau membelok (meliuk) ke
dalam atau ke arah teluk yang digambarkan sebagai garis-garis 1,2,3 dan
seterusnya.
Sehubungan dengan perubahan-perubahan arah gelombang tersebut,
maka terjadi pula perubahan kekuatan arus tenaga ombak seperti yang digambarkan
dengan titik-titik a,b,c,d dan seterusnya.
Terlihat bahwa kekuatan gelombang itu bertumpuh pada tanjung
sedang di teluk sudah menjadi lemah. Akibat dari hal tersebut terjadilah proses abrasi (erosi) di
depan tanjung dan proses sedimentasi di bagian teluk.
Pengangkutan (Hanyutan) Litoral
Penghanyutan hasil erosi marine dapat bergerak ke arah laut,
maupun kembali ke pantai oleh hempasan gelombang ke depan, serta arus balik
setelah hempasan.
Gerakan hanyutan-hanyutan ini disebut “beach driffing”. Gerakan
ini secara terus menerus akan membentuk suatu daerah pesisir (shore). Apabila jumlah sedimentasi lebih banyak dibandingkan pengikisan,
maka pesisir akan bertambah lebar ke arah laut.
Perubahan atau peristiwa ini dikenal dengan progradasi
(progradation). Sebaliknya jika bahan hancuran dari pantai lebih banyak diangkut
daripada yang diendapkan, sehingga daerah pesisir menjadi sempit dan pantai
lebih cepat mundur ke darat, maka proses perubahan ini disebut retogradasi
(retrogradation).
Pengkikisan dan penghanyutan marine ini, dibantu pula oleh
tiupan angin laut yang dapat menyebabkan penimbungan-penimbunan pasir maupun
kerikil disepanjang pesisir di daerah yang tenang dan terlindung seperti teluk.
Pada kawasan pesisir daerah teluk terdapat bahan-bahan endapan
yang dibawa sebagai bahan hanyutan dari daerah tanjung.
SUMBER:
Suharini, Erni dan Abraham Palangan. 2009. Geommorfologi (gaya, proses dan
bentuk lahan). Semarang: Widya Karya.
Posting Komentar