Mitigasi Bencana Gunungapi
5 minute read
Blog by
Nur
Huda Asrori
Mitigasi adalah serangkaian upaya untuk mengurangi resiko
bencana, baik melalui pembangunan fisik maupun penyadaran dan peningkatan
kemampuan menghadapi ancaman bencana (Undang-Undang No. 24 Tahun 2007 Tentang
Penanggulangan Bencana).
Mitigasi bencana gunungapi adalah
serangkaian upaya yang dilakukan untuk mengurangi resiko atau dampak yang
ditimbulkan akibat erupsi gunungapi, baik melalui pembangunan fisik (infrastuktur)
maupun penyadaran dan peningkatan kemampuan masyarakat dalam menghadapi ancaman
bencana tersebut.
Pada postingan ini, akan saya uraikan mengenai:
A. LAHAR
B. PERINGATAN
AWAL LETUSAN GUNUNGAPI
Terdiri dari:
1. Pengamatan Visual
2. Pengamatan Geodinamika
3. Pengamatan Geokimia
4. Pengamatan Cuaca
5. Metoda statistik
C. BAHAYA
ERUPSI GUNUNGAPI
PENDAHULUAN
Indonesia
memiliki 129 gunungapi aktif. Sekitar 10-15 gunungapi yang ada dalam keadaan
sangat potensial untuk meletus.
Bentuk ancaman
dari bencana alam ini berupa korban jiwa dan kerusakan permukiman/harta/benda,
akibat aliran lava, lemparan batu, abu, awan panas. Gas-gas beracun dan
lain-lain.
Frekuensi
letusan gunungapi di Indonesia tercatat antara 3-5 kali pertahun. Bencana yang
ditimbulkan oleh erupsi gunungapi akibat:
1. Nue ardente,
awan panas yang biasanya bersamaan dengan aliran piroklastik, yang mengalir
pada saat erupsi menuju daerah yang lebih rendah dengan kecepatan sekitar 100
km/jam.
2. Bongkah dan
bom volkanik, merupakan hasil lemparan material yang menyumbat lubang kawah,
berupa kubah lava dan lemparan bom yang langsung berasal dari magma pijar.
3. Hujan abu,
partikel halus abu gunungapi yang terbawa angin sejauh ratusan kilomter.
4. Aliran lava,
pergerakan lava tergantung dair viskositasnya, di Indonesia umunya lava
mengalir lambat.
5. Lahar,
istilah lainnya mudflow.
6. Gas beracun,
akumulasi gas beracun, contoh di Dieng, tragei sinila.
Batas daerah
bahaya, dibuat berdasarkan asumsi bahwasanya kegiatan erupsi gunungapi yang
akan datang mirip dengan yang telah terjadi.
Data yang sudah
ada dikompilasi dan dianalisa kembali untuk memperkirakan daerah utama yang
akan mengalami kerusakan, sebaga berikut:
-Erupsi akan
terjadi pada kawah utama;
-Erupsi yang
berlangsung bergerak secara vertikal;
-Bentuk
morfologi gunungapi tidak banyak berubah.
Peta bahaya
gunungapi dibuat dengan tujuan bisa mengurangi korban bencana gunungapi,
terdiri dari pembuatan peta yang menginformasikan:
1) Daerah
terlarang, daerah dekat kawah yang sama sekali tidak boleh dijadikan tempat
tinggal.
2) Daerah
bahaya I, daerah yang kemungkinan dilewati oleh nue ardente/awan panas dan bom
volkanik, penduduk disekitarnya harus segera mengungsi begitu tanda-tanda
kegiatan erupsi muncul.
3) Daerah
bahaya II, terletak di daerah lembah dekat puncak yang kemungkinan dilewati
oleh aliran lahar, yang terdiri dari:
-Daerah siaga,
berada di lokasi dengan topografi yang tinggi;
-Daerah bebas,
lokasi ini kemungkinan lolos dari pengaruh aliran lahar.
LAHAR
Lahar paling
sering secara khusus diperhatikan dalam melakukan mitigasi bencana karena di
negara kita umunya memiliki curah hujan yang tinggi.
Selain itu juga
lahar mempunyai daya hancur yang sangat tinggi dan dapat menempuh jarak yang
cukup jauh dengan kecepatan sekitar 40-60 km/jam.
Lahar adalah
campuran antara bahan erupsi gunungapi terutama abu volkanik dengan air yang
berasal dari air hujan dan tertampung di dalam kawah gunungapi.
Lahar dibagi
menjadi dua, keduanya bisa disebut lahar panas jika suhunya lebih tinggi
terhadap lingkungan sekitarnya atau lahar dingin jika suhunya sama atau lebih
dingin terhadap lingkungan sekitarnya, yaitu lahar erupsi/lahar primer dan
lahar hujan/lahar sekunder.
Istilah lain
untuk lahar adalah mudflow, lahar erupsi hanya terjadi pada gunungapi yang
memiliki danau kawah, sedangkan lahar hujan bisa terjadi pada gunung yang
memiliki maupun tidak danau kawah.
Lahar mempunyai
berat jenis antara 2-2,5 gr/cc, sehingga jika mengalir sangat berbahaya, karena
dapat menyeret bermacam-macam ukuran batuan atau menghancurkan infrastruktur
atau bangunan yang ada di bawahnya.
Lahar erupsi
terjadi sangat mendadak bersamaan dengan proses terjadinya erupsi volkanik
akibat letusan gunungapi yang memiliki danau kawah (misalnya Gunung Kelud di
Jawa Timur, Gunung Awu di Pulau Sangir Besar).
Lahar hujan
terjadi karena pengumpulan air yang tiba-tiba akibat hujan yang sangat deras
pada endapan abu volkanik yang tebal. Abu volkanik yang tebal terendapkan oleh
proses erupsi letusan yang menghasilkan nue ardante (awan panas).
Berdasarkan pengamatan curah hujan lebat yang terjadi
selama 3 jam sebanyak 70 mm/jam bisa membentuk lahar hujan, seperti yang terjadi di Gunung
Merapi di Jawa Tengah, Gunung Semeru di Jawa Timur, dan Gunung Agung di Bali.
PERINGATAN AWAL LETUSAN GUNUNGAPI
Beberapa erupsi
eksplosif terjadi tanpa adanya tanda-tanda khusus, tetapi beberapa kejadian
setelah letusan awal setelahnya memberikan peringatan.ciri khusus.
Dalam melaksanakan
pemantauan gunungapi, menggunakan beberapa macam teknik pengamatan/pengukuran
sifat fisika dan kimia untuk gunungapi.
Hasil analisa
pemantauan dapat memperkirakan kemungkinan letusan suatu gunungapi.
Walaupun demikian,
kita tidak bisa sampai menentukan jam, hari, tanggal gunungapi akan meletus,
karena teknologi yang ada sekarang belum sampai kesana.
Hal yang harus
diperhatikan adalah:
1) Erupsi
letusan uap, hampir tidak ada peringatan sebelumnya;
2) Erupsi
magmatik, melibatkan proses naiknya magma ke permukaan, menyebabkan perubahan
permukaan tanah, adanya anomali aliran panas, serta perubahan suhu dan kimia
permukaan tanah dan mata air.
3) Frekuensi
kejadian dan tingkat gempa biasanya meningkat pada saat erupsi akan terjadi.
Erupsi diawali oleh kegiatan fumarole di daerah baru atau daerah kegiatan
fumarole yang menjadi luas.
1. PENGAMATAN FISUAL
Mengamati
perilaku gunungapi antara lain:
-Warna asap,
semakin banyak zat padat maka warnanya menjadi gelap/hitam.
-Suara gemuruh
dari kawah, naiknya tekanan gas dan suhu yang besar menyebabkan suara yang
bergemuruh, bersamaan dengan keluarnya gas atau asap.
-Mengukur suhu
kawah jika dimungkinkan, suhu bisa diukur jarak jauh, dan datanya dikirim
melalui tranfer data satelit. Suhu akan semakin tinggi jika kegiatan gunungapi
menjelang erupsi meningkat.
-Perkembangan
kubah lava yang ada.
-Lingkungan
disekitar gunungapi (tumbuh-tumbuhan dan hewan).
2. PENGAMATAN GEODINAMIKA
Untuk
pengamatan ini diperlukan peralatan geofisika dan geodesi, hal yang dilakukan
adalah:
a. Mengukur
besarnya deformasi di daerah sekitar kawah gunungapi dengan alat-alat ukur
geodesi yang dipasang dekat dengan lubang kepundan, misalnya: tiltmeter,
seismograph/microseismometer, GPS (global positioning system), EDM (electronic
distance measurement).
b. Mengukur
sifat kemagnetan, bisa dilakukan dengan alat geofisika, misalnya: MT
(magnetotelurik), LOTEM (long offset EM), magnetometer dll.
Magma akan
berkurang sifat kemagenatannya jia suhunya semakin tinggi dan akan hilang sama
sekali jika telah berada di atas suhu Curie (463-5800C untuk granit,
untuk hematit 650-6800C). Naiknya tingkat oksidasi mengurangi
tingkat magnetisasi.
Perubahan fisik
magma yang dicerminkan oleh suhu dan tekanan diinterpretasikan dari data
pengamatan . Pengukuran lainnya yang mirip dan sangat mendukung untuk
mengetahui suhu adalah dengan menggunakan resistivitumeter.
Perbeaan harga
tahanan jenis yang diukur pada waktu yang berbeda merefleksikan perubahan suhu.
c. Mengukur
gaya berat, menggunakan alat gravimeter untuk mengetahui kondisi bawah
permukaan berdasarkan kontras densitas. Magma akan mudah dikenali karena
mempunyai kontras densitas yang besar dengan batuan disekelilingnya, misalnya
untuk magma yang menembus lapisan batuan sedimen.
d. Mengukur
kegempaan, dengan menggunakan seismometer kita mengamati gempa-gempa yang
umumnya dangkal. Pada saat menjelang erupsi yang eksplosif, aktifitas getaran
gempa akan meningkat. Saat magma naik, umunya terjadi gempa yang dapat kita
deteksi dengan mikroseismometer.
3. PENGAMATAN GEOKIMIA
Analisa
geokimia batuan dan gas suatu gunungapi, bertujuan untuk mengetahui evolusi
magma berdasarkan komposisi kimia batuan.
Erupsi yang
terjadi biasanya berubah dari eksplosif menjadi efusif yang mengakhiri suatu
periode letusan.
Pada saat
kegiatan gunungapi meningkat, perbandingan CO2 + CO, dan H2S semakin besar,
pengukuran dilakukan dengan cara spektrometri ultraviolet, dimana kepekaan gas
diketahui berdasarkan jumlah sinar ultraviolet yang dapat menembusnya.
Demikian juga
saat kegiatan erupsi meningkat keluarnya gas CO2, SO2, dan radioaktif juga
menjadi semakin tinggi.
SUMBER:
Sumintadireja,
Prihadi.200. Volkanologi. Bandung:
Penerbit ITB.
Posting Komentar