Pengalaman Memindahkan Jin Dari Pohon Angker

6 minute read
Kamu lagi nyari kisah horor yang nyata? Kebetulan sekali, saya punya sepenggal kisahnya. Simak baik-baik yah..

Sebelum tahun 2000, di Desa Asemdoyong, Kabupaten Pemalang sering sekali terjadi kecelakaan. Entah kebetulan atau tidak, lokasi terjadinya kecelakaan tersebut hampir dipastikan sama. Yaitu di sekitaran lokasi pohon angker yang terletak di tepi jalan raya desa.

Hampir setiap bulan selalu ada saja kasus kecelakaan, mulai dari yang luka ringan sampai luka parah bahkan meninggal dunia. Adapun kasus kecelakaanya berupa tabrakan antarsepeda motor, sepeda dengan motor, maupun motor dengan mobil.

Setelah terjadi serentetan kecekalaan tersebut, baru diketahui bahwa ternyata kasus-kasus kecelakaan tersebut ada sangkut pautnya dengan penghuni pohon angker.

Menurut penuturan para sesepuh di desa, terdapat satu keluarga ghoib yang mendiami pohon angker di tepi jalan tersebut. Keluarga goib ini memiliki dua orang anak kecil yang sering bermain-main di tengah jalan raya. Saat anak-anak mereka sedang duduk-dudukan di pinggir jalan, secara kebetulan ada pengendara motor yang melintas dan melindas tangan ataupun kaki anak-anak ghoib ini. Akhirnya si anak menangis kesakitan dan mengadu pada ibunya.

Karena tidak terima dengan perlakukan pengendara tersebut, ibu dari anak ghoib ini kemudian mencelakakan sang pengendara motor. Setelah mengetahui hal ini, masyarakat yang akan melintas di depan pohon ini biasanya membunyikan klaksonnya atau membaca doa supaya dilindungi Allah dari gangguan penghuni pohon angker.

Semenjak saaat itu, kecelakaan masih saja terus terjadi, namun kali ini kebanyakan korbannya adalah pengendara dari desa lain yang kebetulan melintas di jalan raya asemdoyong serta tidak tahu menahu tentang pohon ini. Yah paling tidak bukan warga kami yang celaka.

Pada perkembangan selanjutnya, Desa Asemdoyong semakin berkembang, jumlah permukiman dan jumlah penduduk semakin bertambah, ekonomi semakin menggeliat, serta diiringi semakin banyaknya orang-orang yang membuat toko kelontong di kanan-kiri jalan.

Pada tahun 2004 ada seorang pengusaha warung makan bernama Sarwo yang berminat untuk membeli tanah di sekitar area pohon angker. Pengusaha tersebut berniat membuka warung makan di lokasi ini karena dinilai strategis dan pasti akan banyak pelanggan yang mampir ke warungnya.

Akhirnya setelah deal dengan pemilik tanah, pembersihan lokasi pun dimulai. Satu persatu pohon-pohon yang ada di tempat itu ditebang, baik yang berdiameter kecil maupun besar. Menjelang ashar, kini tinggallah pohon angker yang belum ditebang.

Rapto adalah salah seorang tukang kayu yang ikut melakukan pembersihan lokasi. Menurut penuturannya, pohon-pohon lain dapat ditebang dengan mudah hanya menggunakan golok andalannya. Hanya butuh beberapa menit saja untuk menebang pohon yang berdiameter 50 cm. Tetapi sewaktu akan menebang pohon angker tersebut, anehnya goloknya seakan tidak mempan sama sekali. Tiba-tiba saja golok yang tadinya sangat tajam kemudian berubah menjadi tumpul.

"Ini aneh, pohon ditebang kok rasanya keras sekali sampe tanganku pegel-pegal!" Kata Rapto.

Rapto terus berusaha untuk menebang pohon angker, namun sampai jam 5 sore, ia tak kunjung berhasil melakukannya. Akhirnya ia menyerah dan menyarankan pada Sarwo untuk memanggil tukang gergaji mesin saja.

Keesokan harinya Sarwo menghubungi tukang gergaji mesin di desa sebelah. Tak butuh waktu lama, setengah jam kemudian tukang gergaji mesin datang dengan seperangkat peralatan canggihnya. Setelah menyeruput secangkir kopi, salah satu personil mereka bernama Yayan segera memanjat pohon angker dan mengikatkan tali besar pada batang pohon angker. Tujuannya yaitu agar batang pohon tersebut tidak rubuh ke jalanan saat ditebang.

Kali ini musibah terjadi pada Yayan. Batang pohon yang ia pijak, tiba-tiba patah dengan sendirinya. Akhirnya Yayan pun jatuh dari ketinggian 15 meter. Yayan terjatuh dalam posisi duduk dan agak terlentang. Namun, kami masih bersyukur karena ia tidak mengalami cedera serius, ia hanya mengalami luka lecet dan terkilir pergelangan tanggannya.

Setelah kejadian naas tersebut, team gergaji segera melanjutkan pekerjaanya. Ada kejadian aneh lagi. Gergaji mesin yang biasanya lancar-lancar saja, untuk kali ini tidak dapat bekerja alias mogok. Berkali-kali diperbaiki namun tetap saja mogok. Akhirnya ketua team menyuruh anak buahnya untuk mengambil gergaji cadangan di rumahnya.

Satu jam kemudian, gergaji cadangan pun datang. Ketika dinyalakan, mesin gergaji tersebut dapat berjalan dengan lancar. Dan proses pemotongan pun dimulai. Lagi-lagi terjadi hal ganjil. Rantai mesin gergajinya tiba-tiba putus saat menyentuh batang pohon angker. Waktu itu kita berpikir positif, mungkin rantainya putus karena agak kendor saat dipasang.

Setelah diganti dengan rantai yang baru, proses pemotongan pun dimulai lagi.

"Crakkkk!!"

Lagi-lagi rantainya putus untuk yang kedua kalinya. Ketua team gergaji mulai panik dan curiga ada sesuatu yang ganjir dengan pohon ini. Akhirnya rantai mesin gergaji diganti lagi untuk yang ketiga kalinya.

"Craaakkk!!"

Untuk ketiga kalinya rantai mesin putus. Setelah mencoba yang ketiga kalinya, akhirnya team gergaji menyerah dan meninggalkan lokasi.

Sarwo kemudian merasa bingung dengan apa yang sebenarnya terjadi? Akhirnya dia mencoba untuk menanyakan kejadian ini pada kakek ku, bernama Mbah Sanim.

Sarwo  : "Kulanuwunnn..."
Mbah   : "Mangga, ada perlu apa wo?"
Sarwo  : "Anu Mbah, saya mau minta tanya soal pohon yang ada di seberang jalan"
Mbah   : "Lha kenapa emangnya?"
Sarwo  : "Itu mbah, mau ditebang kok ndak bisa-bisa"
Mbah   : "Owh.. jadi gini........(mbah bercerita)"

Menurut penuturan kakek, Pohon angker itu dihuni oleh keluarga ghoib. Mereka tidak mau diusik, apalagi sampai dihancurkan rumahnya. Oleh karena itu, keluarga ghoib ini sengaja mengerjai orang-orang yang akan menebang pohon angker tersebut.

Setelah dijelaskan oleh Kakek, akhirnya Sarwo paham dan ia meminta bantuan supaya pada dedemit tersebut dapat dipindah ke tempat lain. Awalnya Kakek menolak, namun karena niat Sarwo baik, yaitu untuk membuat tempat usaha, akhirnya kakek mau menuruti permintaanya.

Pada malam Jumat Kliwon kakek melakukan ritual, entah ritual macam apa saya tidak tahu. Pukul 1 dini hari kakek keluar rumah dan menuju lokasi pohon angker tersebut. Kami mengikuti kakek dibelakannya dengan rasa penasaran.

Setibanya di depan pohon angker, aku melihat kakek seperti mengobrol dengan pohon tersebut sambil sesekali tersebut dan tertawa seperti sedang bercanda dengan temannya. Sesekali ia juga memohon dan merayu-rayu pohon tersebut, ini benar-benar aneh kalau dilihat dengan mata normal.

Satu jam kemudian kakek berjalan menjauhi pohon angker dengan posisi seperti orang yang sedang menggendong anaknya. Kakek berjalan dengan posisi agak bungkuk, persis seperti seorang ayah yang menggendong anaknya.

Kakek terus berjalan beberapa ratus meter dari lokasi pohon angker. Semakin lama aku sadar bahwa ternyata kakek berjalan menuju ke sebuah pohon besar yang letaknya 1,5 km dari desa. Ia berupa pohon asam krantil yang lokasinya sama-sama di tepi jalan.

Setibanya di lokasi pohon asam krantil, kakek berhenti dan berdiri di depannya seolah-olah sedang menurunkan seseorang dari punggungnya. Kakek kemudian berdiri menghadap pohon krantil dan memanjatkan doa.

Setelah ritual selesai, kami dan kakek segera pulang ke rumah.

Aku      :"Kek, tadi ngapain sih kok kayak orang gendong?"
Kakek  :"Owh, itu tadi teman kakek mau pindah dari pohon angker dengan syarat kakek yang menggendongnya untuk pindah"
Aku     : "Hah???"

Aku masih belum paham dengan penjelasan kakek saat itu. Karena kau sama sekali tidak melihat ada orang lain yang kakek gendong, aku tak melihat apa-apa.

Keesokan harinya Sarwo memanggil tukang gergaji yang sama. Awalnya tukang gergaji tersebut menolak, namun setelah dijelaskan bahwa penghuni pohon angker telah dipindahkan akhirnya mereka mau menebangnya kembali.

Dan betul saja, kali ini tak ada hambatan yang terjadi selama proses penebangan pohon angker. Kini lokasi pohon angker tersebut sudah menjadi warung makan yang tiap harinya selalu ramai pembeli.

Itulah tadi sekelumit kisah pemindahan keluarga Jin dari pohon angker yang dilakukan oleh Kakekku. Terimakasih sudah membaca tulisan ini, jangan lupa komentarnya yah..

Pemalang, 4 Januari 2019
Penulis


Nurhuda Asrori, S.Pd.

iklan tengah