Pengelolaan Industri

6 minute read
1. Pengelolaan dalam Ketahanan Pangan 
a. Strategi Dalam Pembangunan Ketahanan Pangan 
  • Peningkatan kapasitas produksi pangan nasional secara berkelanjutan melalui intensifikasi, ekstensifikasi dan diversifikasi. 
  • Revitalisasi industri hulu produksi pangan (Benih, pupuk, pestisida, alat dan mesin pertanian) 
  • Revitalisasi Industri Pasca Panen dan Pengelolaan Pangan 
  • Revitalisasi dan Restrukturisasi kelembagaan pangan yang ada: Kopersasi, UKM, dan lumbung desa. 
  • Pengembangan kebijakan yang kondusif untuk terciptanya kemandirian pangan yang melindungi pelaku bisnis pangan dari hulu hingga hilir meliputi penerapan Teknikal Barrier for Trade (TBT) pada produk pangan, insentif, alokasi kredit, dan harmonisasi tarif bea masuk, pajak resmi dan tak resmi. 
b. Sistem Ketahanan Pangan 
  • Sistem Ketersediaan (Food Availability), yaitu ketersediaan pangan dalam jumlah yang cukup aman dan bergizi untuk semua orang dalam suatu negara baik yang berasal dari produksi sendiri, impor, cadangan pangan maupun bantuan pangan. Ketersediaan pangan ini harus mampu mencukupi pangan yang didefinisikan sebagai jumlah kalori yang dibutuhkan untuk kehidupan yang aktif dan sehat. 
  • Akses Pangan (Food Access), yaitu kemampuan semua rumah tangga dan individu dengan sumber daya yang dimilikinya untuk memperoleh pangan yang cukup untuk kebutuhan gizinya yang dapat diperoleh dari produksi pangannya sendiri, pembelian ataupun melalui bantuan pangan. Akses rumah tangga dan individu terdiri dari akses ekonomi, fisik dan sosial. Akses ekonomi tergantung pada pendapatan, kesempatan kerja dan harga. Akses fisik menyangkut tingkat isolasi daerah (sarana dan prasarana distribusi), sedangkan akses sosial menyangkut tentang preferensi pangan. 
  • Penyerapan Pangan (Food Utilization), yaitu penggunaan pangan untuk kebutuhan hidup sehat yang meliputi kebutuhan energi, gizi, air dan kesehatan lingkungan. Efektifitas dari penyerapan pangan tergantung pada pengetahuan rumah tangga/individu, sanitasi dan ketersediaan air, fasilitas dan layanan kesehatan, serta penyuluhan gizi dan pemeliharaan balita. 
c. Faktor-faktor Yang Mempengaruhi Ketahanan Pangan 
  • Lahan, merupakan faktor penting dalam penyediaan sumber pangan, terutama yang terkait sumber pangan hasil budi daya pertanian dan perkebunan. Semakin luas lahan potensial yang digunakan untuk mengusahakan tanaman pangan, semakin baik ketahanan pangan di suatu negara. 
  • Iklim dan Cuaca, Indonesia memeiliki dua musim yaitu kemarau dan penghujan, musim ini sangat berpengaruh terhadap hasil dan produksi pertanian. Demikian juga dengan keadaan pengaruh dari fenomena El Nino (musim kemarau yang berkepanjangan) dan La Nina (meningkatnya curah hujan sehingga menyebabkan banjir), walaupun ini tidak terjadi di semua wilayah Indonesia, anamun berdampak juga pada hasil pertanian. 
  • Teknologi, semakin tinggi teknologi yang dimiliki, maka akan semakin mudah dalam melakukan proses produksi maupun meningkatkan hasil produksi di suatu wilayah atau negara. Contoh : Penggunaan mesin traktor untuk mengolah lahan, penggunaan GPS untuk nelayan, penggunaan bibit bioteknologi untuk mempercepat pertumbuhan dan hasil tanam dan hydrophonik untuk penanaman di wilayah yang sempit. 
  • Infrastruktur, ketersediaan infrastruktur yang memadai baik di darat, laut maupun udara akan mempercepat proses distribusi dari satu wilayah ke wilayah yang lain. Hal ini akan meningkatkan ketahanan pangan baik secara lokal maupun nasional di wilayah Indonesia ( negara dengan wilayah kepulauan). 
2. Pengelolaan dalam Industri 
a. Bidang industri dibedakan menjadi dua, yaitu: 
  • Industri barang, merupakan usaha mengolah bahan mentah menjadi barang setengah jadi atau barang jadi. Kegiatan industri ini menghasilkan berbagai jenis barang, seperti pakaian, sepatu, mobil, sepeda motor, pupuk, dan obat-obatan. 
  • Industri jasa, merupakan kegiatan ekonomi yang dengan cara memberikan pelayanan jasa. Contohnya, jasa transportasi seperti angkutan bus, kereta api, penerbangan, dan pelayaran. Perusahaan jasa ada juga yang membantu proses produksi. Contohnya, jasa bank dan pergudangan. Pelayanan jasa ada yang langsung ditujukan kepada para konsumen. Contohnya asuransi, kesehatan, penjahit, pengacara, salon kecantikan, dan tukang cukur. 
b. Macam-Macam Bahan Industri Bahan-bahan industri yang biasa dipakai atau ditemukan di indonesia adalah Sumber Daya Alam yang dapat diperbaharui (Reneable), Sumber Daya Alam yang tidak dapat di perbaharui (Unreneable). 
  • Bahan mentah, semua bahan yang didapat dari sumber daya alam dan/atau yang diperoleh dari usaha manusia untuk dimanfaatkan lebih lanjut (Contoh: Kapas untuk industri tekstil, batu kapur untuk industri semen, biji besi untuk industri besi dan baja). 
  • Bahan baku industri, bahan mentah yang diolah atau tidak diolah dan dapat dimanfaatkan sebagai sarana produksi dalam industri (Contoh: Lembaran besi atau baja untuk industri pipa, kawat, konstruksi jembatan, seng, tiang telpon, benang adalah kapas yang telah dipintal untuk industri garmen (tekstil), minyak kelapa, bahan baku industri margarine). 
  • Barang setengah jadi, bahan mentah atau bahan baku yang telah mengalami satu atau beberapa tahap proses industri yang dapat diproses lebih lanjut menjadi barang jadi (Contoh: Kain dibuat untuk industri pakaian, kayu olahan untuk industri mebel dan kertas untuk barang-barang cetakan). 
  • Barang jadi, barang hasil industri yang sudah siap pakai untuk konsumsi akhir ataupun siap pakai sebagai alat produksi, misalnya industri pakaian, mebel, semen, dan bahan bakar. 
c. Dampak Pembangunan Industri 
  • Dampak positif: terbukanya lapangan kerja, terpenuhinya berbagai kebutuhan masyarakat, Pendapatan/kesejahteraan masyarakat meningkat, menghemat devisa negara, mendorong untuk berfikir maju bagi masyarakat, terbukanya usaha-usaha lain di luar bidang industry, dan penundaan usia nikah. 
  • Dampak negative: terjadi pencemaran lingkungan, konsumerisme, hilangnya kepribadian masyarakat, terjadinya peralihan mata pencaharian, terjadinya urbanisasi di kota-kota, terjadinya permukiman kumuh di kota-kota. 
d. Faktor Pendukung & Penghambat 
  • Faktor pendukung: Indonesia kaya bahan mentah, jumlah tenaga kerja tersedia cukup banyak, tersedia pasar dalam negeri yang banyak, iklim usaha yang menguntungkan untuk orientasi kegiatan industry, tersedia berbagai sarana maupun prasarana untuk industry, stabilitas politik yang semakin mantap, banyak melakukan berbagai kerjasama dengan negara-negara lain dalam hal permodalan, alih teknologi, letak geografis Indonesia yang menguntungkan, kebijaksanaan pemerintah yang menguntungkan, kersedia sumber tenagalistrik yang cukup. 
  • Faktor penghambat: penguasaan teknologi masih perlu ditingkatkan, mutu barang yang dihasilkan masih kalah bersaing dengan negara-negara lain, promosi di pasar internasional masih sangat sedikit dilakukan, jenis-jenis barang tertentu bahan bakunya masih sangat tergantung dengan negara lain, sarana dan prasarana yang dibutuhkan belum merata di seluruh Indonesia, modal yang dimiliki masih relatif kecil 
e. Klasifikasi Industri 
1) Jenis-Jenis Industri berdasarkan Bahan Baku 
  • Industri ekstraktif, adalah industri yang bahan baku diambil langsung dari alam sekitar. Contoh: pertanian, perkebunan, perhutanan, perikanan, peternakan, pertambangan, dan lain lain. 
  • Industri nonekstaktif, adalah industri yang bahan baku didapat dari tempat lain selain alam sekitar. 
  • Industri fasilitatif, adalah industri yang produk utamanya adalah berbentuk jasa yang dijual kepada para konsumennya. Contoh: Asuransi, perbankan, transportasi, ekspedisi, dan lain sebagainya. 
2) Jenis-Jenis Industri berdasarkan berdasarkan Ukuran Modal 
  • Industri padat modal, adalah industri yang dibangun dengan modal yang jumlahnya besar untuk kegiatan operasional maupun pembangunannya. 
  • Industri padat karya, adalah industri yang lebih dititik beratkan pada sejumlah besar tenaga kerja atau pekerja dalam pembangunan serta pengoperasiannya. 
3) Jenis-Jenis Industri berdasarkan Penjenisannya Berdasarkan SK Menteri Perindustrian No.19/M/I/1986 
  • Industri Kimia Dasar (Seperti industri semen, obat-obatan, kertas, pupuk) 
  • Industri Mesin dan Logam Dasar (seperti industri pesawat terbang, kendaraan, tekstil) 
  • Industri Kecil (seperti industri roti, kompor minyak, makanan ringan, minyak goreng curah) 
  • Aneka industry (seperti industri pakaian, industri makanan dan minuman) 
4) Jenis-Jenis Industri berdasarkan Jumlah Tenaga Kerja 
  • Industri rumah tangga, tenaga kerja berjumlah antara 1-4 orang. 
  • Industri kecil, tenaga kerja berjumlah antara 5-19 orang. 
  • Industri sedang atau industri menengah, tenaga kerja berjumlah antara 20-99 orang. 
  • Industri besar, tenaga kerja berjumlah antara 100 orang atau lebih. 
5) Jenis-Jenis Industri berdasarkan Pemilihan Lokasi 
  • Industri yang berorientasi atau menitikberatkan pada pasar (market oriented industry), adalah industri yang didirikan sesuai dengan lokasi potensi target konsumen. Industri jenis ini akan mendekati kantong-kantong di mana konsumen potensial berada. 
  • Industri yang berorientasi atau menitikberatkan pada tenaga kerja (man power oriented industry), adalah industri yang berada pada lokasi di pusat pemukiman penduduk karena bisanya jenis industri tersebut membutuhkan banyak pekerja untuk lebih efektif dan efisien. 
  • Industri yang berorientasi atau menitikberatkan pada bahan baku (supply oriented industry), adalah jenis industri yang mendekati lokasi di mana bahan baku berada untuk memangkas biaya transportasi yang besar. 
6) Jenis-Jenis Industri berdasarkan Produktifitas Perorangan 
  • Industri primer, adalah industri yang barang-barang produksinya bukan hasil olahan langsung atau tanpa diolah terlebih dahulu (Produksi pertanian, peternakan, perkebunan, perikanan). 
  • Industri sekunder, adalah industri yang bahan mentah diolah sehingga menghasilkan barang-barang untuk diolah kembali. (Benang sutra, komponen elektronik, dan sebagainya). 
  • Industri tersier, adalah industri yang produknya berupa layanan jasa (telekomunikasi, transportasi, perawatan kesehatan).

iklan tengah