Kejadian Nyata: Lelembut Penutup Rejeki

3 minute read
Tulisan ini merupakan kejadian nyata yang dialami tetanggaku bernama Suroso (nama samaran) pada bulan Desember tahun 2003 silam.

Suroso adalah seorang pedagang bakso yang telah puluhan tahun berjualan di desaku. Desa ini terletak di Kecamatan Taman, Kabupaten Pemalang, Jawa Tengah.

#Tradisi Baritan
Setiap memasuki tahun baru jawa, bulan Syuro, di desa kami menyelenggarakan acara sedekah laut atau kami menyebutnya acara Baritan.

Acara ini berupa kegiatan larung sesaji ke tengah laut yang dibawa oleh ratusan kapal nelayan.

Selain kegiatan larung sesaji, dalam acara Baritan juga diselenggarakan pengajian umum, wayang kulit, dan musik dandut yang diisi oleh bintang pantura terkenal.

Karena Baritan hanya diselenggarakan sekali dalam setahun, tentunya banyak warga berdatangan ke acara ini. Tak hanya warga desaku yang datang tetapi warga dari kecamatan lain pun berdatangan.

Kondisi ini membuat desa menjadi sangat ramai dan penuh sesak dengan lautan manusia.

#Peluang
Sebagai pedagang, Suroso tidak akan menyia-nyiakan kesempatan ini. Jauh sebekum hari H, ia telah mempersiapkan lahan untuk menggelar lapak dagangan baksonya. Biasanya dalam sehari ia dapat meraup omset sebesar 15juta.

Jika acara ini lancar tanpa kendala cuaca, biasanya dalam seminggu ia bisa menghasilkan 50-60 juta hanya dari dagangan bakso dan es buahnya.

Itulah gambarab keuntungan yang didapatkan suroso ketika acara Baritan.

#Tak Laku Satupun
Acara Baritan tahun 2003 adalah hari-hari tersial bagi Suroso. Pasalnya, ia telah belanja bahan-bahan untuk bakso dan es buah berjuta-juta namun tak ada satu pun pelanggan yang mau datang ke warungnya.

Ia membuka lapak dari pagi, siang, sore, malam, sampai dini hari tak ada satupun orang yang mau mampir untuk sekedar makan. Ini benar-benar aneh karena pada waktu itu ada ribuan orang yang bersliweran mondar-mandir didepan warungnya.

"Kok gak ada yang mau beli baksoku ya?" Pikir Suroso.

Melihat kondisi warung yang sepi, air mata Suroso akhirnya jatur terurai karena membayangkan betapa besarnya kerugian yang ia derita.

Yang membuat Suroso makin sedih adalah ketika berkeliling ke warung-warung bakso lainnya ternyata kebanyakan ramai pengunjung. Hanya warungnya saja yang sepi.

Ini aneh...


Akhirnya keesokan harinya Suroso datang ke rumah Kakekku.

Bisa dibilang kakek adalah orang pintar didesa atau orang-orang biasa memanggil kakek dengab sebutan "Mbah".


Suroso datang ke rumah kakek sambil menangis tersedu-sedu. Ia mengaku bingung karena dagangannya sudah seharian tidak ada yang laku satu porsipun.

Akhirnya setelah mendengar cerita suroso, kakek segera bergegas menuju lapak baksonya Suroso.

Setibanya di lokasi, kakek melihat raksasa besar. Kata kakek, Raksasa ini wujudnya mengerikan. Matanya segede mangkok bakso, telinganya memanjang sampe ke tanah, giginya runcing dan tidak rata, rambutnya acak-acakan, lidahnya menjulur panjang.

Seketika kakek langsung paham kalau raksasa ini adalah jin yang dikirim oleh orang lain.

Tujuan jin ini adalah menghalangi pandangan mata manusia supaya tidak dapat melihat warungnya Suroso.

Dengan begitu otomatis suroso akan bangkrut karena baksonya tidak ada pelanggan yang datang.

#Pengusiran
Kakek segera membaca mantra-mantra kejawen sambil berdiri didalam warung. Kalau dilihat sih kayak orang lagi ngobrol tapi rada-rada emosi.

Setelah sepuluh menit komat-kamit, Kakek kemudian menuju ke depan warung dan mengambil sesuatu.

Kakek mencabut sebuah lidi yang tertancap didepan warung Suroso. Kata kakek, lidi inilah yang menyebabkan dagangan Suroso tidak laku dari kemarin.

Lidi ini berisi lelembut yang sengaja dibuat oleh pesaing Suroso. Kakek tidak menyebutkan siapa orangnya.

"Ini asa yang usil sama kamu So." Kata Kakek.

Setelah dicabut, lidi tersebut kemudian dibuang ke laut.

Benar saja, setelah beberapa menit kemudian banyak pembeli yang datang ke warung.

"Lho, Pak Suroso jualan toh? Kok dari tadi saya mondar mandir lewat jalan ini gak lihat yah?" Kata Tarini.

"Eh, iya lho pak kayaknya saya juga gak lihat ada warung dari tadi, padahal tadi saya nungguin anak milih mainan di samping" Kata Sidon.

Suroso hanya tersenyum mendengar pertanyaan-pertanyaan pelanggangnya. Ia kemudian yakin bahwa memang bemar ada orang yang sengaja usil dengan dagangannya.

Suroso sangat bersyukur dagangannya kembali laku seperti tahun-tahun sebelumnya. Ia pun berterimakasih pada kakek dan memberikan banyak jajanan saat berkunjung ke rumah kakek.

Itulah sepenggal pengalaman pahit yang dialami oleh tetanggaku. Semoga bisa menjadi pelajaran untuk kita semua.

iklan tengah