Pengalamanku: Nyari Jangkrik Malah Ketemu Hantu Raksasa

6 minute read
Malam ini saya mau bercerita tentang pengalaman horor waktu mencari jangkrik di malam tengah sawah.

Peristiwa ini terjadi di desa Asemdoyong, Pemalang pada 12 September 2005 silam.

Berikut ini kisahnya.

Malam itu cuaca terlihat cerah. Sinar rembulan terang benderang menyinari setiap sudut gelap desa.

Selepas adzan magrib berkumandang, saya segera mengambil wudlu lalu melaksanakan sholat di masjid.

Sepulang dari masjid, saya baru ingat bahwa malam ini ada janji dengan kawan-kawan untuk mencari jangkrik.

Jangkrik yang kami cari bukanlah serangga biasa yang sering dimanfaatkan sebagai pakan burung. Melainkan seekor jangkrik istimewa yang suaranya nyaring.

Orang-orang di desaku menyebutnya sebagai jangkrik lipo. Ciri-cirinya berwarna hitam pekat dan ada kalung kuning di bagian lehernya.

Untuk mendapatkan jangkrik ini tidaklah mudah. Kita harus mencarinya pada waktu malam hari di lahan bekas sawah yang telah kering dan jauh dari perkampungan warga.

Kebiasaan dari anak-anak muda di desaku yaitu sering nyari jangkrik bareng-bareng di malam hari. Biasanya dari pukul 19.00 hingga tengah malam.

Gak takut?

Ya takut lah. Cuman, karena kita rame-rame jadinya ya biasa saja.

#Ngumpul
 Pukul 19.00 aku segera menuju ke rumah Taji dengan membawa peralatan lengkap untuk mencari jangkrik. Mulai dari senter, sarung, kandang, dan makanan.

Setibanya di rumah Taji, ternyata teman-temanku sudah pada ngumpul duluan.

Kalau tidak salah, ada sekitar 14 anak, antara lain Said, Rohman, Syukron, Hilmi, dan Taji, dll.

Setelah semua kawan lengkap, kami segera bergegas menuju lokasi dengan berjalan kaki selama 1 jam perjalanan. 

Jalan yang kami lewati bukanlah jalan beraspal, melainkan hanya berupa jalan tanah yang penuh rerumputan.
Pada waktu siang, suasananya ramai karena banyak petani yang lalu lalang pergi ke sawah.

Sedangkan di waktu malam, jalanan ini sangat sepi dan bikin merinding.

Tak ada satu pun lampu penerangan sepanjang jalan. Kondisi jalan benar-benar gelap gulita. 

Ditambah lagi dengan banyaknya perkebunan mangga di kanan-kiri jalan tentunya menambah kesan angker.

Kalau kamu lewat sini sendirian mungkin bakalan kencing di celana 😂😂

#Tiba di Lokasi
Setelah satu jam menyusuri jalanan super horor, akhirnya kita tiba di lokasi.

Lokasi pencarian jangkrik adalah bekas lahan sawah milik pak Sober yang telah kering dan banyak ditumbuhi rumput liar.

Kondisi tanah banyak terdapat retakan-retakan besar karena musim kemarau yang berkepanjangan.

Lahan ini berjarak sekitar 1,5 km dari permukiman warga. 

Karena jauh dari permukiman, otomatis disini kondisinya gelap namun masih sedikit terang karena mendapat sinar rembulan.
Benar saja kata teman-teman. Sewaktu pertama kali tiba di sini, banyak sekali suara jangkrik saling bersautan.

Suaranya benar-benar banyak, kayaknya lebih dari seratus. 

Insting berburu kita pun tiba-tiba muncul. Secara otomatis semua anak sibuk mencari sumber suara jangkrik lalu menggalinya dengan linggis.

Waktu itu untuk harga seekor jangkrik mencapai 5-10rb. Jadi ketika mendengar suara jangkrik yang begitu banyak, maka kita seolah-olah menemukan tambang emas.

Betapa gembiranya...

Aku sibuk mencari-cari sumber suara jangkrik dalam kegelapan. Setelah saya dekati pelan-pelan, akhirnya ketemu sumber suaranya. Langsung saja saya gali dengan peralatan seadanya dan dapat.

Yes!!!

Satu, dua, tiga...empat...

Terus menggali dan mencari. Anak-anak lain juga sama girangnya seperti saya. Mereka semua sibuk mencari.

#Pulang
Tak terasa, ternyata waktu pada jam tangan telah menunjukkan pukul 11 malam. Kami semua sepakat untuk pulang.

Aku : "Ji, kamu dapat berapa ekor?"
Taji  : "Kayaknya 25 an jangkrik. Kamu?"
Aku  : "Dapat 16 nih"
Taji  :"Teman-teman, ayok kita pulang!"
Teman : "Ayoo..."

Dengan perasaan senang, saya segera pulang. Namun sepanjang jalan saya merasa rada aneh.

"Kok rada sepi ya?🤔" Pikirku.

Saya merasa ada yang kurang dari rombongan. 

Sewaktu berangkat, rasanya rombongan begitu rame dan ketawa-ketawa melulu. Tapi kok pulangnya rada sepi. 

Mungkin karena sibuk dengan urusan masing-masing  dan kondisi yang gelap, makanya gak ada yang nyadar kalau ada anak yang tertinggal.

Kita terus berjalan...

Setelah berjalan cukup lama, akhirnya kita tiba di perkampungan. Kita gak langsung pulang, tetapi ngumpul dulu di rumah taji sambil mengecek hasil buruan malam ini.

Aku : "Ji, wedangnya mana nih?"
Taji  : "Bentar ya, tak buatin"
Syukron : "Sekalian gorengannya ji"
Taji  :"Okey"

Kita ngobrol dan begadang sampe subuh di rumah Taji.

#Gempar
Jam 3 pagi. Ketika kami lagi nyanyi2 di dalam rumah, tiba-tiba dari arah luar salah satu teman kami berteriak.

Sukron : "Woooyyy keluar..."
Kami    : "Ada apa?"
Sukron : "Itu kayaknya ada orang lari-lari"
Kami    : "Dimana?"
Sukron : "Itu tuh disono (nunjuk ke ujung jalan)
Aku  : "Iya, itu kayak ada orang lari"

Setelah dekat, kami baru tahu bahwa yang lari-lari tersebut adalah Said, Ipul, dan Mirza. 

Mereka datang dalam keadaan penuh keringat, ngos-ngosan, dan kaki terluka.

Aku     : "Eh, kalian darimana aja?"
Mereka : ... (gak jawab, masih ngos2an)
Aku     : "Tenang dulu, ambil nafas"

Setelah tenang, barulah mereka mulai bercerita tentang kejadian menyeramkan yang dialami.

Dimulai dari Said..
Sewaktu kami nyari jangkrik bareng-bareng tadi malam, ternyata tanpa sadar Ia terpisah dari rombongan.

Menurut ceritanya, waktu itu memang awalnya Said nyari jangkrik bareng kita di lahan milih pak Sober. 

Namun karena dirasa jumlahnya terlalu sedikit, Ia mengajak Mirza dan Ipul ke lokasi lain yang lebih jauh sekitar 400 meter dari lokasi rombongan.

Insting Said benar. Ternyata di tempat itu jangkriknya sangat banyak. 

Anehnya, jangkrik-jangkrik tersebut berkumpul di atas permukaan tanah sehingga Said tak perlu repot-repot untuk menggali.

"Horee kita dapat banyak broo!!" Teriak Said.

Said, Mirza dan Ipul mulai menangkap jangkrik tersebut satu persatu. Saking banyaknya, bahkan membuat wadah yang ia siapkan sampai tidak muat.

Mereka bertiga larut dalam kegembiraan hingga waktu menunjukkan pukul 01.30 WIB.

Ditengah asiknya mencari jangkrik, tiba-tiba angin bertiup kencang. Dan sinar rembulan sudah tak tampak lagi karena tertutup awan mendung.

Mirza : "Id, pulang yuk, udah banyak nih"
Said   : "Bentar lagi"

Barusaja ngomong begitu, tiba-tiba di depan mereka muncul sosok bayangan hitam seperti kakek tua.

Jarak antara sosok tersebut dan mereka sekitar 5 meter. Dalam kondisi yang remang-remang, tak begitu jelas apakah manusia atau bukan.

Karena rasa penasaran, mereka bertiga secara perlahan mendekati sosok tersebut.

"Pak, lagi ngapain?" Sapa Ipul.

Ipul mengira bahwa sosok ini adalah bapak-bapak petani yang lagi nyari tikus di sawah.

"Pak, nyari tikus ya?" Kata Ipul.

Sudah bertanya dua kali, tetapi sosok tersebut hanya diam seribu bahasa.

Said mencoba mengarahkan senternya ke sosok ini namun tiba-tiba saja lampu senternya mati.

"Waduh senterku mati nih" Kata Said.
"Coba punyaku" Kata Mirza.

Saat sinar senter diarahkan ke sosok ini lagi-lagi mati.

Ipul    : "Za, ada yang gak beres nih"
Said   : "Kok aku merinding yah"
Mirza : " Eh, jangan-jangan..."

Baru ngomong begitu tiba-tiba kaki dari sosok tersebut bertambah panjang.

Dari satu meter, dua meter, tiga meter dan terus bertambah tinggi hingga kira-kira setinggi tower sinyal hp.

Melihat kejadian tersebut mereka bertiga ketakutan. Seluruh tubuh terasa kaku bahkan mulut tak bisa berteriak.

Mereka sangat ingin berlari secepatnya namun tubuh terasa berat seperti terikat. Dan setelah beberapa saat barulah mereka bisa bergerak.

"Sssettt....settt...setaaaaannnn!!!!"

Langsung saja spontan mereka langsung berlari sekuat tenaga. 

Padahal kalau kalian tahu, kondisi lahan yang kami injak tidaklah rata. Melainkan banyak sekali lubangnya akibat kekeringan.

Mereka bertiga terus berlari sekencang mungkin sampe jatuh berkali-kali karena masuk ke lubang tanah.

Rasa sakit karena lecet tak digubris. Yang ada dipikiran mereka adalah lari secepatnya sampe ke kampung.

Mereka terus berlari selama beberapa menit, kemudian berhenti karena kelelahan.

Sebelum memasuki kampung, mereka harus melalui perkebunan yang super angker seluas 5 hektar.

Said memutuskan untuk tidak berlari lagi karena menganggap sudah aman dari hantu kaki panjang.

Mereka berjalan menyusuri kegelapan kebun tanpa senter dan bekal apapun.

Semakin masuk kedalam area kebun, suhu udara semakin dingin dan lembab seta sangat gelap.

Tak ada pilihan lain, karena inilah satu-satunya jalan pulang ke rumah

Suara burung hantu yang bertengger di ranting pohon membuat nyali mereka semakin ciut. Said, Mirza dan Ipul berjalan pelan dan sesekali tersandung ranting pohon.

Beberapa menit berjalan di perkebunan, Ipul mendengar suara wanita menangis.

Ipul   : "Za, kamu denger gak?"
Mirza : "Iya bro, itu mba kunti"
Said  : "Aku gak denger apa-apa".

iklan tengah